My Photo
Powered by Friendster Blogs

July 2008

Sun Mon Tue Wed Thu Fri Sat
    1 2 3 4 5
6 7 8 9 10 11 12
13 14 15 16 17 18 19
20 21 22 23 24 25 26
27 28 29 30 31    

Last Dinner (1)

Kerja paruh waktu semasa menempuh pendidikan telah kujalani sejak masih di tingkat SD sampai kuliah. Ada pengalaman spiritual yang kurasakan saat kerja paruh waktu di rumah makan nenekku sendiri. Aku bilang pengalaman spiritual, karena hal itu sempat membuatku menangis sambil merasakan rasa syukur yang menyelimuti diri ini.   

Tugasku sebagai pekerja paruh waktu adalah membuka dan menyiapkan warung nasi dari subuh hingga jam tujuh pagi. Begitu pukul 7 berdentang, aku langsung “kabur” kesekolah mengikuti iring-iringan siswa yang berjalan terburu-buru agar tidak terlambat masuk gerbang sekolah yang ditutup pukul 7.15. Selepas pulang sekolah aku masih sempat bermain di kebun, sambil membawa radio transistor berbatu baterai 4 buah. Siaran favoritku adalah radio Australia, irama lagu-lagunya asik meski aku tak mengerti sama sekali liriknya. Aku heran, kenapa siaran itu bisa tertangkap radioku yang butut tapi tetap jagoan itu. Pasalnya radio berspeaker cuma satu itu pernah tertinggal di kebun selama lima hari, kena panas dan hujan. Begitu diketemukan lagi, radio itu masih bekerja sempurna. Hanya baterainya saja yang sudah berubah warna menjadi kecoklat-coklatan dan berbau aneh.

 

Saat pukul dua tiba, maka tiba pulalah jam dinasku di warung. Aku bertugas dari jam dua atau jam tiga hingga pukul 9 malam sebagai pramusaji warung nasi. Sekedar informasi aja ya.., warung nasi ini sangat terkenal di kota kecilku. Pasalnya, ini bisa dibilang ini satu-satunya warung nasi muslim terbesar dalam radius 4 kecamatan yang mayoritas penduduknya memeluk agama nasrani. Jadi keberadaan warung nasi milik nenekku ini sangat penting adanya. Ditambah lagi resep soto nenekku yang bisa membuat warga kota Medan rela jauh-jauh menempuh jarak 185 km sekedar berwisata kuliner ke warung kami.    

Warung akan terlihat agak lengang sekitar pukul 4 hingga 6 sore hari. Hanya orang-orang yang belum sempat makan siang yang biasanya ada di warung. Atau pelanggan yang ingin menikmati sore dengan minum kopi bersama rekan-rekannya. Kalau di kota besar, anak-anak muda hobbi “clubbing” bareng ke cafe-cafe. Nah.. kalau di masyarakat Batak, justru orang tua yang senang “clubbing” bersama rekan-rekan sebaya mereka di warung-warung. Kalau ga di warung kopi, ya di lapo tuak.  

Disaat agak lengang itulah aku punya kesempatan untuk membersihkan warung. Resminya aku adalah pelayan warung, tapi juga merangkap ‘cleaning sevice’, kasir, dan kadang ‘cheff’.

 

Ketika menyapu lantai dan membersihkan meja sambil mendengar lantunan lagu cinta Iwan Fals, sepasang suami istri datang ke warung. Kegiatan cleaning service aku hentikan dulu, karena ga sopan bersih-bersih saat tamu datang. Mereka berjalan pelan-pelan sekali. Sang suami berusaha keras mempertahankan istrinya agar tetap berdiri dan berjalan. Tangan kirinya memegang termos dan buntalan yang aku duga adalah pakaian. Tangan kanannya membopong sang istri tercinta yang tampak kelelahan berjalan. Wajahnya pucat, tak sedikitpun aura semangat terpancar dari wajahnya. Mengenakan kain sarung, berjaket tebal, dan kepala yang dililit kain “ulos” dia juga tampak berjuang keras mengikuti tuntunan suaminya.    

Aku berdiri sambil sedikit memasang senyuman. Mereka satu-satunya pelanggan yang datang sekitar pukul 4 petang itu. Begitu duduk di meja pojok, sang istri tampak terduduk lesu.

                            

Last Dinner (2)

Taksiranku mereka berumur sekitar 30 tahunan. Gurat-gurat tanda tua di wajah belum jelas kelihatan, tapi tampaknya sang istri yang baru saja didudukkan suaminya dengan amat susah itu punya masalah dengan kesehatannya.


 

Rasanya telah bermenit-menit aku menyaksikan adegan dari pintu masuk hingga mereka menuju meja makan yang berada di pojok terluar rumah makan ini. Padahal kenyataannya proses itu hanya sekitar 20 sampai 30 detik saja. Aku tertegun. Aku merasakan sebuah adegan yang diperankan oleh dua orang sosok anak manusia yang telah berikrar menjadi suami istri. Sore menjelang maghrib itu kusaksikan kesetiaan, kemesraan, dan rasa cinta tulus beradu dengan kesusahan dan gangguan kesehatan.

Saat itu aku masih duduk di bangku kelas 1 SLTP. Sejak SD kelas 4 aku memang sudah terbiasa untuk bekerja paruh waktu. Bukan karena problem ekonomi yang memaksa aku menghabiskan usia bermainku dengan bekerja. Batinku sering merasa kosong dan hampa kalau selepas pulang sekolah, bermain bersama teman-teman lalu dirumah sendirian. Akhirnya kuputuskan untuk bekerja paruh waktu. Biar ga kena marah, aku kerja dengan saudara sendiri (nenekku). Semasa SD, bersama paman kecilku aku menjadi pedagang asongan di terminal bus antar kota. SLTP aku bekerja di rumah makan nenekku.

Sebagai seorang pelayan/penyaji di rumah makan, maka sudah kewajibanku untuk menyambut tamu yang datang. Sore itu, tamu yang hadir hanya sepasang suami-istri itu, karena jam-jam segini bukan masa jam makan siang ataupun makan malam. Kutanyakan mereka mau memesan apa. Tapi tampaknya kedua tamu ini tak sedikitpun ada niat untuk makan. Wajah istrinya pucat dan tubuhnya kelihatan lemah sekali. Kepalanya dililit kain ulos (kain adat suku batak) berwarna hitam dengan ornamen kuning keemasan dan merah, tubuhnya dibalut jaket berlapis-lapis. Ia hanya tertunduk tak bersemangat. Semua orang bisa menduga kalau ibu itu sedang sakit, sakit keras malah. Sedangkan suaminya masih berupaya melepaskan satu-persatu barang-barang yang ia bawa; termos, jaket kulit berwarna coklat, dan buntalan dibungkus kain sarung yang kuduga isinya adalah campuran kain kotor dan kain bersih. Sambil melepas topi lebarnya dia duduk seraya berujar dalam bahasa batak simalungun yang kira-kira terjemahannya

“Dik, pesan satu porsi saja”.

“Lauknya pakai apa Pak?”, sahutku dalam bahasa batak simalungun juga.

   

“Terserah saja, Adik tentukan saja sendiri. Pokoknya sajikan yang menurut Adik paling enak ya..”. lalu ia berusaha melempar senyum kepada istrinya dan seolah-olah matanya berbicara pada sang istri tercinta “Makan yang banyak ya sayang.., biar cepat sembuh”.
Tak banyak pelanggan yang punya permintaan seperti ini. Pilihan lauknya diserahkan kepadaku. Terus terang aku merasa bingung, “aku harus sajikan apa ya..?”. Aku sendiri sedang tak berselera makan, inilah hal yang rata-rata dirasakan oleh penyaji makanan di restoran atau rumah makan. Karena yang diurus adalah makanan terus, maka efeknya makanan itu bikin ‘eneg’ sendiri. Apalagi yang akan makan adalah orang sakit. Dimana-mana yang namanya orang sakit pasti ‘dicabut’ kemampuannya untuk menikmati makanan. Yah.. daripada bingung aku sajikan saja makanan dan lauk yang kira-kira aku suka. Lauknya ikan kembung sambal, pakai sayur daun singkok dan kuah gulai. “Mudah-mudahan enak” batinku.
Aku hidangkan paket makanan itu ke meja mereka. Ketika aku mengambil segelas air minum, kulihat suaminya mendekatkan piring itu ke hadapan istrinya yang bahkan untuk bernafaspun telah menguras seluruh sisa energinya.

Tapi sore itulah aku menyaksikan sebuah keajaiban. Allah memberikan sebuah pemandangan yang menurutku adalah sebuah mukjizat kecil yang dipertontonkanNya.

Satu menit yang lalu ibu itu terlihat hanya seorang yang hanya memiliki jasmani, tapi jiwanya telah dicuri penyakit yang menggerogoti tubuhnya. Suaminya memberikan satu sendok suapan ke istrinya, lalu dikunyahnya pelan-pelan sekali. Agaknya ia takut kalau-kalau makanan itu ditolak dan terpaksa dikeluarkan dengan sangat memalukan di tempat umum seperti ini. Tapi untungnya percobaan pertama itu berhasil. Sang suami melakukan percobaan kedua, dan sang istri berhasil menuntaskannya. Di percobaan ketiga, suapan itu ditolaknya. Ia mengambil sendok itu sendiri dan memasukkan makanan yang tertampung di sendok itu. Suapan selanjutnya dilakukannya sendiri. Malah kini kecepatan dan semangat untuk menyantap makanan itu semakin tinggi. Aku sedikit kaget, kini sang istri mendadak terlihat seperti orang sehat saja.

Aku masih bisa membayangkan betapa berbinarnya pancaran tatapan suaminya menyaksikan hal seperti itu. Sang istri yang tadinya sakit dan tak punya gairah untuk melakukan apapun kini makan dengan lahap di hadapannya sendiri.

Aku masih tak habis pikir, ada apa dengan ini semua. Apakah makanan itu begitu lezatnya hingga mampu mengembalikan selera makannya? Tapi menurut pengalamanku selezat apapun makanan, dilidah orang sakit tetap sama – pahit!. Yang jelas, kulit wajah perempuan itu sudah mulai memerah. Tadinya wajahnya pucat, seakan-akan drakula telah menghisap habis darah kehidupannya.

Selepas adegan luar biasa itu, sang suami menuntun istrinya untuk menghabiskan sisa obat yang agaknya dari dokter di rumah sakit. Mereka tak lama berada di rumah makan itu. Selepas membayar, sang suami menuntun kembali istrinya. Tadi mereka tertatih-tatih memasuki pintu, kini keluar dengan langkah penuh semangat.

Terus terang, kejadian itu benar-benar menginspirasiku bahwa apapun bisa terjadi dengan kuasaNya dan membuatku merasakan arti bersyukur.

Last Dinner (3)

Inilah enaknya bekerja di tempat nenek sendiri, bisa suka-suka ngatur jadwal. He..he.. Sekalian juga bisa bolos kalau lagi ga mood atau kalau ada tawaran menarik dari teman-teman berpetualang ke Danau Toba, apalagi hiking ke gunung wow.. itu tawaran yang tampaknya tak layak untuk ditolak.

Selepas pulang sekolah, bersama teman-teman aku bermain bola hingga petang. Menjelang maghrib aku pulang dan ngacir ke warung. Sesampai disana, pamanku bilang “Fan.. ada yang nyariin tuh.. Katanya mau beli nasi, tapi harus kamu yang bungkuskan. Dia sudah disini dari siang tadi, jadi cepat temui karena dia sudah menunggu lama”
“Siapa ??” tanyaku. Heran juga, ga biasa-biasanya ada yang pengen ketemu denganku apa lagi minta “special service” seperti ini.

Pamanku menunjuk ke arah seorang lelaki yang sedang duduk agak gelisah di pojok ruangan. Asap daun tembakau yang terbakar beberapa centimeter di ujung bibirnya mengepul seperti knalpot truk yang sedang berjuang menderu di jalan mendaki.

Langsung saja kuhampiri beliau. Oo.. aku masih kenal Bapak ini, beliau yang beberapa hari lalu mampir kesini bersama istrinya yang sakit dan tiba-tiba tampak sehat setelah makan disini.

“Ada apa Pak?”, tanyaku (masih dalam bahasa batak simalungun)

“Dik, tolong bungkuskan satu porsi lagi makanan seperti yang kamu sajikan untuk istriku beberapa hari yang lalu disini? Masih ingat kan?”

     

“Oh ya Pak, lauk dan sayurnya sama seperti kemarin juga kan?” tanyaku sambil menyiapkan pesanannya.
Saat aku menyiapkan pesanan itu, beliau datang menghampiri. Diceritakannya bahwa ia senang sekali saat terakhir istrinya makan diwarung ini beberapa hari lalu. “Dia lahap sekali makan”, katanya. Ternyata itu adalah makan baginya yang terakhir dalam beberapa hari ini. Karena sesampainya di rumahnya, sang istri sudah tidak mau makan lagi barang satu sendokpun. Sehingga kondisi kesehatannyapun menurun. Itulah sebabnya beliau datang lagi kesini dengan harapan menyaksikan keajaiban lagi lewat makanan yang sama seperti makanan yang dilahapnya terakhir kali.

Aku merasa berdosa karena sudah membuatnya menunggu lama. Begitu selesai membungkus nasi itu langsung kuberikan ke beliau. Setelah menyelesaikan pembayaran iapun bergegas keluar, seolah-olah bahasa tubuhnya mengatakan “tunggu aku sayang, sebentar lagi kamu pasti bisa makan, tunggu sebentar ya... aku segera pulang”. Langit telah sempurna hitam. Aku tahu ia harus melewati jalan kecil berkilo-kilo. Ntah bagaimana caranya ia sampai kerumahnya dalam kondisi gelap seperti ini, setahuku angkutan umum sudah tidak ada lagi. Batinku turut berdoa.

Empat hari berikutnya, laki-laki berusia sekitar 30 tahunan itu datang lagi ke warung.

“Dia sudah pergi Dik. Saat aku sampai dirumah malam itu, dia sudah meninggal”.

 

Aku tak mampu untuk berkomentar. Bahkan mengucapkan rasa belasungkawa-pun terasa berat. Aku merasa bersalah, mungkin saja kalau sore itu aku tidak bermain bola istrinya bisa jadi masih bisa tertolong.

“Aku datang untuk mengucapkan terimakasih” katanya

Aku heran “kok..?” lirihku dalam hati

“Aku menyaksikan keajaiban saat istriku makan disini. Dokter telah angkat tangan dengan penyakitnya. Aku pun tau sisa usianya hanya tinggal hitungan jam. Tapi hari itu ia minta jalan-jalan dan makan di warung nasi ini. Aku tak percaya dengan apa yang kusaksikan, ia sanggup makan lahap. Setelah kami pulangpun ia cerita betapa senangnya ia bisa makan di warung nasi ini. Semangat hidupnya kembali bergairah. Betapa bahagia hatiku masih bisa bercengkrama dengannya meski hanya beberapa hari.” Tutur beliau. Kedua matanya tampak berkaca-kaca

 

Aku masih tak mampu berkomentar. Subhanallah, aku diberikan kesempatan menyaksikan adegan langsung dahsyatnya kekuatan cinta. Cinta sederhana dua anak manusia yang membuatku tak kuasa menahan jatuhnya air mata. Aku yakin bukan makanan yang membuat istrinya mampu ceria kembali sore itu, tapi kekuatan cintalah yang membuatnya ingin bahagia bersama suami tercinta. Meski penyakit telah menggerogoti tubuhnya dan malaikat maut pun telah mendekat padanya.

 

Kalau mengingat pengalaman ini. Aku akan lantas ucapkan cinta kepada istriku. Lewat sms, telepon atau berbisik di telinganya “I Love U sweetie..

Manajer Nasyid

Tak sedikit teman-temanku protes. “Masa’ sarjana teknik dari ITB kok jadi manajer nasyid sih??”.

Frekuensi pertanyaan sejenis itu sudah tak mampu lagi dihitung oleh agregat jari tangan dan jari kakiku. Mulai dari teman, saudara, hingga rekan-rekan nasyid juga melontarkan pertanyaan serupa. Ada yang eksplisit, bahkan bertanya “kapan dipecat Fan?”.  Ada juga yang implisit, “apa kerjaan lain Fan?”.

Whats wrong with Nasyid Manager guys??? So.. let me explain, it’s a wonderful experience.

Awal bulan Ramadhan pada tahun 2004 aku resmi menjadi manajer tim nasyid edCoustic. Saat itu sahabatku Kang Deden (vocalis  edCoustic) menawarkan untuk membantu mereka. Sebentar lagi mereka akan luncurkan album jadi kayaknya perlu seorang manajer. Sebenarnya manajer edCoustic sudah ada, sahabat dan seniorku – Kang Ery Mariwijaya. Tapi masih butuh bantuan katanya.

Tawaran itu aku terima. Alasannya ada tiga. Pertama, Kang Deden dan Egi adalah sahabatku di Karisma (Keluarga Remaja Islam Salman) – ITB. Jadi wajar dong... kita membantu sahabat kita sendiri. Kedua, aku sudah lama memperhatikan lagu-lagu karya Kang Deden. Buatku lagu-lagunya punya karakter, dan masalahnya karakter lagu seperti itu aku suka. Dan ketiga, aku memang penggemar musik. Meski tak pintar bernyanyi atau bermain musik tapi aku senang sekali mendengarkan musik. Intinya I’m not a musician, I’m a music lover. Nah.. tak ada alasan untuk menolak tawaran itu kan..?

Pengalaman edCoustic hanya pernah masuk dalam album kompilasi nasyid Bandung. Sisanya hanya tampil di acara-acara kecil, di acara remaja masjid atau acara kampus yang berhonor kurang dari seratus ribu rupiah atau bahkan gratisan. Kini edCoustic memproduksi album I, judul albumnya Masa Muda. Diskusi kami saat itu adalah bagaimana caranya agar edCoustic bisa dikenal oleh banyak orang? Pasalnya kita ga punya budget marketing barang seribu rupiahpun.

Bahkan aku ingat sekali, pengalaman saat kami merencanakan launching album edCoustic yang kami rancang dilaksakan di Gedung Serba Guna Masjid Salman. Saat itu kami harus “mengemis-ngemis” dana untuk launching. Sayangnya dana untuk itu tak berhasil kami dapatkan. Akhirnya, honor tampil beberapa kali yang tak seberapa itu kami alokasikan sepenuhnya untuk launching. Untuk menghemat dana kami kerjasama dengan Adik-adik kami di Karisma untuk membantu acara, lalu konsumsi buka puasa kami minta dari salah seorang donatur masjid Salman. Singkat cerita launching itu lumayan sukses. Meski hanya berbudget kurang dari Rp. 300 ribu, menurutku launching itu berhasil lah.. Sebab ada juga yang launching di tempat yang sama dengan budget nyaris Rp 10 juta pencapaiannya lebih sukses kami. He..he.., subjektif kali kau Fan..

Lagu edCoustic kami setor ke MQ FM, kami berharap sekali radio itu bersedia mengudarakan lagu edCoustic agar di kenal oleh banyak orang. Beberapa kali kami melakukan tindakan setting request, artinya kami sendiri yang me-request lagu kami. He..he.. ini salah ga ya..? ga ah.. kan cuma beberapa kali ga terus-terusan. Ajaib..., dalam beberapa minggu lagu edCoustic tiba-tiba menjadi hit di radio MQ FM. Lalu mulai mengalirlah undangan tampil, meski di acara-acara kecil. Lucunya, bulan Ramadhan tahun 2004 itu hampir setiap hari kami tampil di kampus Unpad Jatinangor. Aku sampai kehilangan kesempatan menikmati taraweh berjamaah karena harus ikut mengurusi edCoustic.

Lalu sejak itu, selama lebih dari 1,5 tahun edCoustic menjadi top request di MQ FM Bandung. Tak cuma di Bandung. Lagu-lagu edCoustic kemudian dikenal di berbagai kota seperti Jogja, Jakarta, Solo, Cirebon, Padang, Makassar, Pontianak, Cianjur, Palembang, Lampung, dll. Efek berikutnya penjualan kasetpun lumayan berhasil, berkali-kali cetak ulang loh... Tapi ada pengalaman menarik, saat awal-awal dulu kaset kita pernah dipulangkan ke Bandung. Kata distributor ga laku, hiks.. berita itu cukup menohok dan menonjok. Tapi beberapa bulan berikutnya distributor minta lagi, dan lagi. Sampai-sampai kita harus bikin album repackage dan vcd karaoke demi permintaan pasar (katanya sih).

Undangan tampil pun mulai muncul dari berbagai kota. Jakarta, Jogja, Solo, Cianjur, Cirebon, Malang, Padang, Purwokerto, dll. Aku sempat kaget saat beberapa bulan edCoustic muncul ada undangan dari Solo, siangnya kami dikritik habis-habisan di radio. Malamnya tampil di salah satu mall di Solo. Ajaibnya saat edCoustic tampil hampir semua penonton hafal dengan lagu-lagu edCoustic.

Pengalaman menarik saat kami menuai banyak kritik. Lagu Nantikanku di Batas Waktu menjadi lagu penuh kritikan sepanjang perjalanan album edCoustic. Hampir di semua kota lagu ini dikritik. Bahkan ada beberapa kota yang mengharamkan lagu ini diputar. Meski kami sudah mencoba memberikan penjelasan tentang makna sebenarnya lagu itu, tetapi kritikan lewat sms, email, telepon, wawancara di radio, kritikan di majalah tetap mengalir. Bahkan hingga aku menulis ini kritik masih mengalir. Pokoknya lagu NDBW itu telah membuat kami kenyang dengan kritikan dan memberi penjelasan. Herannya justru lagu ini pula yang paling banyak digemari. Aku sering tersenyum sendiri saat melihat fenomena ini.

Lagu Kamisama juga pernah diharamkan di salah satu kota. Lagi-lagi kami harus jungkir balik menjelaskan, sampai-sampai harus berguru ke rekan-rekan yang ahli sastra jepang dan meminta saran dari alumni yang ada di Jepang. Selanjutnya lagu Pemuda Palestina diboikot oleh sejumlah ulama dengan alasan ada unsur syirik di dalamnya. Yup.. jika demikian halnya kami mohon maaf. Tapi kami juga punya penjelasan sendiri.

Begitu derasnya kritikan mengiringi album edCoustic. Sampai-sampai sahabatku Deden (pencipta seluruh lagu edCoustic) sempat menangis dan frustasi. Bahkan sempat juga ngambek dan berjanji ga akan mencipta lagu lagi. Duh.. jadi manajer emang sulit, apalagi saat harus menuntaskan permasalahan emosional seperti ini. Untuk saja, dia melanggar janjinya. Ini baru melanggar janji dalam konteks yang benar, he..he..

Perjalananpun tetap berlanjut. edCoustic memang tak setenar Opick, Snada, Raihan atau The Fikr. Tapi setidaknya kami sumbangkan warna beda di dunia nasyid. Buat kami tenar itu ga penting-penting amat, yang penting bisa bermanfaat, titik.
Dalam mengurusi edCoustic, aku merasakan pengalaman yang luar biasa. Aku bisa jalan-jalan gratis bahkan dibayar karena edCoustic, he..he.. Aku bisa menikmati musik. Buatku mendampingi edCoustic dalam berkarir dan tampil dari satu panggung ke panggung lainnya bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah kesenangan dan kebahagiaan.

Kamipun pernah tak sependapat, pernah juga bertengkar. Tapi untung ada lagu Pertengkaran Kecil, jadi tetap kondusif.
Menjadi manajer edCoustic memang bukan pekerjaan utamaku. Tapi juga edCoustic bukan pekerjaan sampingan. Semua ada porsinya. Ganteng-ganteng gini, gue juga direktur dua perusahaan coy.. (he..he.. sombong kali kau Fan.. !). Tapi sayangnya perusahaannya masih anak bayi jadi belum bisa berkantung tebal.

Kami juga sudah punya Band, namanya edCoustic Band. Tiggi (gitar) dan Tri (bass) kami “temukan” secara tak sengaja di sebuah festival nasyid. Karena skill-nya bagus kami ajaklah mereka gabung. Gigin (Drum) juga tIrf_15_1ak sengaja ditemukan saat aku berkunjung ke Karisma, ternyata ada pembina muda Karisma yang senang musik.  Meski punya Band, resminya edCoustic tetap dua orang. Kloplah aku harus ngurusin 5 orang anak-anak edCoustic. Deden, Egi, Tiggi, Tri, dan Gigin. Semuanya punya karakter yang berbeda. Alhamdulillah aku diberi kesempatan mengurusi orang-orang berbakat ini.

Lalu bakatku dimana? Main musik?? Ah... tidak. Aku selalu mengacaukan irama permainan musik edCoustic band saat latihan. Kasihan mereka, sebenarnya dalam hati mereka berkata “Duh... kang Irfan... please deh..” tapi mereka segan kayaknya he..he.. Padahal permainan gitarku sebaik Toh Pati loh.., tapi saat Toh Pati belum bisa main gitar. Kalau Om Deden lagi ga ada, aku yang gantiin Vocal. Lagi-lagi mereka pasti membatin, “please... deh Kang Irfan..”. Sebab suaraku sering berpindah nada tanpa terkontrol. Padahal suaraku sebagus Richard Mark, tapi saat dia sakit tenggorokan.

Sekarang edCoustic sedang menyusun album II, semoga cepat kelar. Materi lagunya sih aku pikir lebih baik dari album I. Yang jelas karakter lirik edCoustic yang selalu dekat dengan pengalaman real kita tetap dipertahankan. So.. kalau dah jadi beli kaset & CD-nya ya.., trus pasang NSP-nya. Kalau bajak MP3-nya jangan.., sebab itu membajak namanya. Kalau mau membajak, disawah aja okeh..?
Intinya aku senang jadi seorang manajer nasyid. Pengalaman di edCoustic buatku sebagai penggalan kisah yang luar biasa. Sedihnya pasti ada, senangnya juga. Yang jelas  I love it.

Hobi baru

Sekarang aku punya hobi baru sekaligus aneh – memasak. Ga tau knapa kok akhir-akhir ini aku agak tergila-gila bikin masakan sendiri. Akhirnya kalau nge-net yang dicari-cari adalah resep masakan. Trus beli bahan ke supermarket atau pasar sarijadi yang bersebelahan ama TPS yang bau itu. Racik-racik.. masukkan ini, tumis itu, tambahkan anu, dan siap dihidangkan.. Lalu makanan yang tersaji ternyata ga sehebring yang ada di fotonya. Wah.. gagal aku!, 75 persen percobaan gagal, dan sisanya bisa dimakan meski harus mengerutkan kening agak lama dulu baru bisa benar-benar bisa ditelan.   

 
Mungkin ini bawaan darah keluarga kali ya..? keluarga ayahku (papaku) semuanya jago masak. Bahkan dirumahku sendiri, Papa lebih jago masak dibandingkan Mama. Kalau ada acara agak gede dikit, yang masak ya Papaku, sedangkan Mama hanya jadi pembantu sang koki yang kadang-kadang suka emosi kalau lagi masak.

   

 
Tapi ternyata bakat itu tak tertular ke kami. Bahkan untuk masak nasi goreng sederhana aja gagal mlulu adanya. Nah.. mungkin ini saatnya, ilmu keluarga itu mulai merasuk dalam diriku. Masak… yah memasak. Meski kegiatan ini masih kental dengan nuansa gendernya. Tapi menurutku memasak itu punya filosofis tersendiri, sehingga meski kesannya feminim ga masalah-lah. Yang penting kan bisa makan dengan enak dan kenyang, plus kalau mau ngambil hikmahnya filosofis memasak lumayan asik loh untuk direnungi.

   

 
Sebelum memasak kita harus punya bayangan akan hasil akhirnya nanti. Bagaimana cita rasanya, warnanya, dan aromanya. Lalu pencitraan hasil akhir itu mulai dianalisa, bagaimana racikan yang paling pas, bahan apa yang harus digunakan agar sesuai dengan keinginan lalu bagaimana cara memasaknya. Pemilihan sumber daya tidak boleh sembarangan biar hasilnya mantap.

   

 
Mulai dari awal sampai akhir, kita harus bisa mengontrol proses kerja agar tidak ada yang terlewat. Begitu akan selesai cicipi dulu sebagai langkah evaluasi kinerja. Kalau ada yang kurang maka dilakukan adjustment, nambah garamlah, air, kecap, atau yang lainnya biar memehuni standar planning.

   

 
Nah… kalau dihayati memasak itu mengajarkan kita untuk tetap keep in touch dengan sebuah karya. Dimulai dari mimpi, analisis dan perencanaan, pemilihan daya dukung, mengorganisasikan segala sumber daya, pelaksanaan, pengawasan dan evaluasi, hingga finalisasi produk. Lengkap, sebuah pelajaran dapat diperoleh dari memasak. Coba deh praktekin masak mie instant dengan filosofis diatas. Lalu beranjak memasak jenis masakan yang lebih advance.

   

 
Tulungin dong…, sup ayamku rasanya aneh nih.. kurang apanya yak..? atau jangan-jangan ada yang kelebihan nih??

   

 

-tanganku masih bau bawang bombay, trus nulis pake keyboard warna putih-

 

Pisces, disore hari

Pisces (Pondok Indah Sarijadi Ceria Selalu) Created on

8/16/2006 2:43 PM

Belajar dari Penghinaan

Saban pagi saya sering bertemu dengan seorang Bapak yang hanya bekerja sebagai pengumpul sampah di kompleks tempat ia tinggal. Siang hari bergelut dengan sampah yang luar biasa baunya, dan kadang ia mencari pekerjaan tambahan mencuci mobil orang-orang yang ada disekitar kompleks itu.

Bukan pekerjaannya yang mendorongku untuk bertanya pada si Bapak. Tapi sikap orang padanya yang cenderung memandang enteng padanya. Sering disuruh-suruh dengan nada kurang sopan, bahkan anak-anak kecilpun mulai mengikuti perilaku orang dewasa padanya.

Tapi disisi lain, ada kekuatan luar biasa yang tersimpan dalam sosok Bapak ini. Dan inilah yang mendecak kekagumanku akannya. Setiap sholat Jum’at ia selalu membawa sajadah berlebih, agar bisa dibagikan kepada orang yang kebetulan tidak mendapatkan alas sholat lagi. Dan akupun pernah mendapatkan uluran sajadah dari beliau. Dan sikapnya kepada anak-anaknya yang begitu lembut, jauh dari profesinya yang hanya sebagai pemungut sampah. Ia selalu tampil bersih dan berwibawa ketika bermain dengan anak-anaknya.

Kenapa ia tampak tidak terpengaruh sama sekali dengan sorot rendah tatapan orang lain, dan pekerjaannya yang relatif tidak segengsi orang lain?. Inilah yang coba aku tanyakan.

Beliau berkata “Memang sejak dulu saya telah banyak mendapatkan tanggapan seperti ini dari orang-orang. Menganggap rendah dan meremehkan, bahkan kadang menghina. Tapi apalah gunanya semua itu dimasukkan ke dalam hati? Toh saya juga tidak merasa terhina kok. Allah kan tidak pernah membeda-bedakan manusia yang dicintai-Nya berdasarkan harta dan status sosialnya kan?. Apalah gunanya dicintai dan dihormati orang banyak jika Allah enggan menyapa kita dengan cinta-Nya?.”

Benar juga ya, kadang kita merasa sakit hanya mendapatkan kritikan dari orang lain atau penyikapan negatif orang lain atas diri kita. Apalagi kalau dibalas dengan dendam dan sakit hati.

Menyikapi segalanya dengan positif justru memberikan pengkayaan batin bagi diri kita.

Padepokan Sangkuriang, awal tahun 2003

Memaafkan

Pernah sekali, seorang teman tiba-tiba berkitim sms dan bertanya memecah kesunyian. “Bagaimana caranya memaafkan dengan hati yang tulus?” tanyanya dengan nada tulisan yang serius.

Sulit juga mencerna kata-kata itu, memaafkan dengan hati yang tulus?. Lama kucoba mengikuti jalan pikirannya. Bukankah dengan memaafkan kita sudah membersihkan segumpal kotoran di relung hati, kenapa harus ditanya lagi masalah ketulusan?. Tapi tak kutemukan juga jawabannya.

Lalu kucoba merasakan apa yang dirasakannya, saat itu pula kusadari bahwa teman itu begitu jelinya meraba isi hatinya. Ternyata memang benar, hati adalah benda kecil yang mudah sekali terluka tapi sulit untuk disembuhkan. Goresan yang ditambal dengan kata maaf sering menimbulkan sakit baru.

Kini baru kusadari bahwa memaafkan dengan tuntas adalah suatu pekerjaan yang berat. Lalu kutanya balik padanya “cukup pentingkah engkau mempermasalahkan itu?”, dengan harapan ia segera melupakan pertanyaan tadi.

“Ia mungkin menjadi bebas dengan anggukan maafku, tapi bekas-bekas luka itu selalu bergentayangan disini, jauh di dasar hatiku. Dan akupun merasa tersiksa karena tak bisa melepaskannya dengan sepenuhnya.”


Oh teman…, barangkali kita memang harus belajar dari beningnya air yang tak membekas oleh sayatan apapun. Juga Tuhan yang selalu mencurahkan belas kasih pada siapun juga di muka bumi ini. Tanpa harus terlalu memihak pada sekelompok orang.

6 Desember 2004,

Kompensasi

Secara alamiah, setiap makhluk hidup dan benda mati akan selalu mencari keseimbangan. Pegas yang diberi gaya akan berusaha mencapai pada keseimbangan yang dimilikinya. Setiap benda yang ditekan-pun akan selalu berusaha melawan dan memberikan kompensasi berupa perlawanan ke arah yang berlawanan.

Begitu juga dengan makhluk hidup, tidak ada yang rela tertekan tanpa kompensasi. Kemerdekaan adalah suatu pekikan untuk menuntut kompensasi atas ketertindasan.

Bahkan tanah tempat kita berpijak inipun ternyata melakukan kompensasi. Kerak bumi berenang dan mengapung dengan prinsip kompensasi. Gunung yang menjulang tinggi akan berkompensasi dengan menambah material lebih dalam dibandingkan dataran sehingga ia tetap bisa mengapung.

Normalnya, setiap bagian dari kehidupan akan selalu berkompensasi. Demikian juga halnya dengan kita sebagai manusia. Problematika hidup yang dihadapi akan dikompensasi dengan stress, marah dan jatuhnya semangat. Itulah salah satu cara kompensasi yang secara tidak sadar kita lakukan. Nikmat yang berlimpah berupa harta, kesenangan, dan penghargaan akan dikompensasi dengan rasa senang yang melangit.

Orang hebat dibentuk oleh kelemahannya sendiri, sebab orang hebat yang dibentuk oleh kekuatannya adalah wajar. Ia punya potensi, tapi hakikatnya tidak ada manusia yang benar-benar sempurna. Sering kita dengar kisah sukses beberapa orang yang menurut ukuran kita tergolong orang yang sukses. Coba perhatikan apa yang mereka tuturkan ketika menceritakan kesuksesannya. Rata-rata akan mengungkapkan bagaimana sulitnya mereka harus berjuang mendapatkan hal tersebut.

Oleh karena itu, mau tidak mau kita akan selalu melakukan kompensasi. Tapi pertanyaan selanjutnya adalah, apakah kompensasi itu akan disikapi seperti apa? Ketika sedih, kompensasi akan dilakukan, demikian juga sebaliknya. Pilihlah kompensasi yang benar-benar menjadi pilihan yang akhirnya menjadi sumber kekuatan kita


13 September 2004, selepas kuliah Gravimetri...

Mental edukasi

Kemelut pendidikan sejak dari dulu memang selalu mengundang masalah. Sistem yang tak kunjung stabil, respon peserta didik yang tidak proaktif, sarana dan prasarana, transportasi dan segala macamnya. Padahal bangsa ini sudah menghirup udara kemerdekaan selama 58 tahun. Tapi kita belum bisa menjadikan negeri ini sebuah bangsa pendidikan.

Jika ditransformasikan ke masa depan, agaknya kita masih belum siap bersaing dengan teman-teman dari negara lain dalam era keterbukaan. Artinya Indonesia kini siap menjadi sasaran empuk karena kapasitas intelektual bangsa ini masih belum merata. Perilaku klenik lebih digemari daripada pendekatan intelektual.

Disamping permasalahan sistem pendidikan yang sering dijadikan kambing hitam problematika pendidikan, mental siswa dalam menjalani usia belajar juga kerap menjadi pokok dari kegagalan pendidikan.

Sebut saja Anton, siswa SLTP di salah satu kecamatan. Sekolah baginya hanya sekedar menjadi rutinitas pengganti bekerja di sawah. Orang tuanya sanggup membiayai sekolah, namun pancaran air muka tak menggambarkan bahwa sekolah adalah sebuah perjuangan. Satu persatu bahan pelajaran dilalui setiap hari, tapi sebanyak itu pula pikirannya kosong melayang entah kemana. PR yang dibawa kerumahpun tiada artinya karena selalu dituntaskan pagi hari dengan mencontek.

Selama saya menjadi siswa, tak sedikit typical siswa yang seperti itu. Dan saya juga yakin disekolah-sekolah lain pasti banyak juga siswa yang memiliki mental negatif terhadap pendidikan yang diterimanya. Susah memang menghadapi siswa yang respon educative-nya rendah, menonjolkan kekuatan fisik menjadi andalannya. Berkelahi, merokok, bolos, mencuri, dan sejumlah aktivitas yang mengundang tantangan itu menjadi kebiasaan anak-anak seperti ini.

Ternyata sikap seperti ini mudah sekali menjalar ke siswa yang lain. Mungkin karena masa remaja adalah masa-masa yang sangat cocok untuk seorang anak melongok dunia sekitarnya dan tak jarang informasi yang diterima diambil begitu saja.

Sikap mental yang negatif terhadap pendidikan bukan hanya ada dikalangan siswa yang bermasalah seperti diatas tadi. Tapi sebenarnya ada di hampir keseluruhan siswa yang menjadi peserta didik. Boleh dikatakan bahwa hanya sedikit saja siswa yang memiliki hasrat untuk menggapai cita-cita pendidikannya, sisanya masih banyak yang belum memiliki orientasi pendidikan yang jelas. Dan menganggap bahwa sekolah yang dijalaninya sekarang hanya terbatas pada kewajiban yang harus dilalui saja.

Dengan sikap mental yang seperti ini, sebagus apapun sistem pendidikan yang diberikan akan terhambat juga. Sebesar apapun subsidi yang diberikan pemerintah, juga tidak akan meningkatkan gairah belajar secara signifikan. Bahkan di sekolah yang gratis sekalipun fenomena siswa seperti ini tetap banyak, padahal proses seleksi yang ketat diharapkan dapat menjaring siswa yang respon educative-nya tinggi. Ternyata tidak terlalu signifikan juga.

Artinya penyakit seperti ini sudah menjadi virus di kalangan remaja usia sekolah. Jika membaca kisah-kisah mental (tidak tahu benar atau tidaknya) remaja di negara lain akan pendidikan, sepertinya memang bangsa ini memiliki masalah pada respon mentalnya dalam dunia pendidikan.

Mulai dari siswa hingga pejabat selalu bermasalah dalam aspek mental, kini kita hidup dalam zaman yang sudah mendewakan kesesatan dan memojokkan rasa kebenaran. Korupsi menjadi pekerjaan rutin, mengikuti pola hidup yang tak sesuai dengan ajaran agama dan budaya bangsa adalah warna sosial sehari-hari. Orang lebih bangga membela goyangan inul dan teman-teman, daripada menolong tetangga yang sedang sekarat.

Semua ini berawal dari sikap mental kebanyakan siswa kita, saat usia sekolah sudah terbiasa dengan sikap mental negatif maka selanjutnya sikap mental seperti ini akan menjadi bagian hidup.

Masih remaja, "Buat apa belajar keras, toh ngga akan jadi presiden". Ketika sudah dewasa, "Kalau korupsi kecil-kecilan kan tanggung, mending besar sekalian.."

Luar biasa, saat bangsa lain bangga dengan Kaizennya, kita tak malu dengan mencurangi bangsa sendiri.

Juli, 2003 Ketika Kemah Kerja bersama Teman-Teman seangkatan di Pangalengan... Asik... tiap hari minum susu sapi.

Sore

Kupu-kupu lara tertinggal di padang bunga
Menghirup hawa tangis
Menjelajah pekat kepenatan

Satu rasa dalam hidup
Bagai rata dengan sayup
Sungguh...
Aku kehilangan jamanku
Melayang dan terbang
Menuju hampa,....

Petang sunyi dan kosong
Ladang sedih serona
Mengantar jiwa mendarat
Di belukar dan terdiam
Ini damai atau kehampaan?
Aku ingin keluar


Padepokan Sangkuriang, 29 Juli 2003