Tak sedikit teman-temanku protes. “Masa’ sarjana teknik dari ITB kok jadi manajer nasyid sih??”.
Frekuensi pertanyaan sejenis itu sudah tak mampu lagi dihitung oleh agregat jari tangan dan jari kakiku. Mulai dari teman, saudara, hingga rekan-rekan nasyid juga melontarkan pertanyaan serupa. Ada yang eksplisit, bahkan bertanya “kapan dipecat Fan?”. Ada juga yang implisit, “apa kerjaan lain Fan?”.
Whats wrong with Nasyid Manager guys??? So.. let me explain, it’s a wonderful experience.
Awal bulan Ramadhan pada tahun 2004 aku resmi menjadi manajer tim nasyid edCoustic. Saat itu sahabatku Kang Deden (vocalis edCoustic) menawarkan untuk membantu mereka. Sebentar lagi mereka akan luncurkan album jadi kayaknya perlu seorang manajer. Sebenarnya manajer edCoustic sudah ada, sahabat dan seniorku – Kang Ery Mariwijaya. Tapi masih butuh bantuan katanya.
Tawaran itu aku terima. Alasannya ada tiga. Pertama, Kang Deden dan Egi adalah sahabatku di Karisma (Keluarga Remaja Islam Salman) – ITB. Jadi wajar dong... kita membantu sahabat kita sendiri. Kedua, aku sudah lama memperhatikan lagu-lagu karya Kang Deden. Buatku lagu-lagunya punya karakter, dan masalahnya karakter lagu seperti itu aku suka. Dan ketiga, aku memang penggemar musik. Meski tak pintar bernyanyi atau bermain musik tapi aku senang sekali mendengarkan musik. Intinya I’m not a musician, I’m a music lover. Nah.. tak ada alasan untuk menolak tawaran itu kan..?
Pengalaman edCoustic hanya pernah masuk dalam album kompilasi nasyid Bandung. Sisanya hanya tampil di acara-acara kecil, di acara remaja masjid atau acara kampus yang berhonor kurang dari seratus ribu rupiah atau bahkan gratisan. Kini edCoustic memproduksi album I, judul albumnya Masa Muda. Diskusi kami saat itu adalah bagaimana caranya agar edCoustic bisa dikenal oleh banyak orang? Pasalnya kita ga punya budget marketing barang seribu rupiahpun.
Bahkan aku ingat sekali, pengalaman saat kami merencanakan launching album edCoustic yang kami rancang dilaksakan di Gedung Serba Guna Masjid Salman. Saat itu kami harus “mengemis-ngemis” dana untuk launching. Sayangnya dana untuk itu tak berhasil kami dapatkan. Akhirnya, honor tampil beberapa kali yang tak seberapa itu kami alokasikan sepenuhnya untuk launching. Untuk menghemat dana kami kerjasama dengan Adik-adik kami di Karisma untuk membantu acara, lalu konsumsi buka puasa kami minta dari salah seorang donatur masjid Salman. Singkat cerita launching itu lumayan sukses. Meski hanya berbudget kurang dari Rp. 300 ribu, menurutku launching itu berhasil lah.. Sebab ada juga yang launching di tempat yang sama dengan budget nyaris Rp 10 juta pencapaiannya lebih sukses kami. He..he.., subjektif kali kau Fan..
Lagu edCoustic kami setor ke MQ FM, kami berharap sekali radio itu bersedia mengudarakan lagu edCoustic agar di kenal oleh banyak orang. Beberapa kali kami melakukan tindakan setting request, artinya kami sendiri yang me-request lagu kami. He..he.. ini salah ga ya..? ga ah.. kan cuma beberapa kali ga terus-terusan. Ajaib..., dalam beberapa minggu lagu edCoustic tiba-tiba menjadi hit di radio MQ FM. Lalu mulai mengalirlah undangan tampil, meski di acara-acara kecil. Lucunya, bulan Ramadhan tahun 2004 itu hampir setiap hari kami tampil di kampus Unpad Jatinangor. Aku sampai kehilangan kesempatan menikmati taraweh berjamaah karena harus ikut mengurusi edCoustic.
Lalu sejak itu, selama lebih dari 1,5 tahun edCoustic menjadi top request di MQ FM Bandung. Tak cuma di Bandung. Lagu-lagu edCoustic kemudian dikenal di berbagai kota seperti Jogja, Jakarta, Solo, Cirebon, Padang, Makassar, Pontianak, Cianjur, Palembang, Lampung, dll. Efek berikutnya penjualan kasetpun lumayan berhasil, berkali-kali cetak ulang loh... Tapi ada pengalaman menarik, saat awal-awal dulu kaset kita pernah dipulangkan ke Bandung. Kata distributor ga laku, hiks.. berita itu cukup menohok dan menonjok. Tapi beberapa bulan berikutnya distributor minta lagi, dan lagi. Sampai-sampai kita harus bikin album repackage dan vcd karaoke demi permintaan pasar (katanya sih).
Undangan tampil pun mulai muncul dari berbagai kota. Jakarta, Jogja, Solo, Cianjur, Cirebon, Malang, Padang, Purwokerto, dll. Aku sempat kaget saat beberapa bulan edCoustic muncul ada undangan dari Solo, siangnya kami dikritik habis-habisan di radio. Malamnya tampil di salah satu mall di Solo. Ajaibnya saat edCoustic tampil hampir semua penonton hafal dengan lagu-lagu edCoustic.
Pengalaman menarik saat kami menuai banyak kritik. Lagu Nantikanku di Batas Waktu menjadi lagu penuh kritikan sepanjang perjalanan album edCoustic. Hampir di semua kota lagu ini dikritik. Bahkan ada beberapa kota yang mengharamkan lagu ini diputar. Meski kami sudah mencoba memberikan penjelasan tentang makna sebenarnya lagu itu, tetapi kritikan lewat sms, email, telepon, wawancara di radio, kritikan di majalah tetap mengalir. Bahkan hingga aku menulis ini kritik masih mengalir. Pokoknya lagu NDBW itu telah membuat kami kenyang dengan kritikan dan memberi penjelasan. Herannya justru lagu ini pula yang paling banyak digemari. Aku sering tersenyum sendiri saat melihat fenomena ini.
Lagu Kamisama juga pernah diharamkan di salah satu kota. Lagi-lagi kami harus jungkir balik menjelaskan, sampai-sampai harus berguru ke rekan-rekan yang ahli sastra jepang dan meminta saran dari alumni yang ada di Jepang. Selanjutnya lagu Pemuda Palestina diboikot oleh sejumlah ulama dengan alasan ada unsur syirik di dalamnya. Yup.. jika demikian halnya kami mohon maaf. Tapi kami juga punya penjelasan sendiri.
Begitu derasnya kritikan mengiringi album edCoustic. Sampai-sampai sahabatku Deden (pencipta seluruh lagu edCoustic) sempat menangis dan frustasi. Bahkan sempat juga ngambek dan berjanji ga akan mencipta lagu lagi. Duh.. jadi manajer emang sulit, apalagi saat harus menuntaskan permasalahan emosional seperti ini. Untuk saja, dia melanggar janjinya. Ini baru melanggar janji dalam konteks yang benar, he..he..
Perjalananpun tetap berlanjut. edCoustic memang tak setenar Opick, Snada, Raihan atau The Fikr. Tapi setidaknya kami sumbangkan warna beda di dunia nasyid. Buat kami tenar itu ga penting-penting amat, yang penting bisa bermanfaat, titik.
Dalam mengurusi edCoustic, aku merasakan pengalaman yang luar biasa. Aku bisa jalan-jalan gratis bahkan dibayar karena edCoustic, he..he.. Aku bisa menikmati musik. Buatku mendampingi edCoustic dalam berkarir dan tampil dari satu panggung ke panggung lainnya bukanlah sebuah pekerjaan, melainkan sebuah kesenangan dan kebahagiaan.
Kamipun pernah tak sependapat, pernah juga bertengkar. Tapi untung ada lagu Pertengkaran Kecil, jadi tetap kondusif.
Menjadi manajer edCoustic memang bukan pekerjaan utamaku. Tapi juga edCoustic bukan pekerjaan sampingan. Semua ada porsinya. Ganteng-ganteng gini, gue juga direktur dua perusahaan coy.. (he..he.. sombong kali kau Fan.. !). Tapi sayangnya perusahaannya masih anak bayi jadi belum bisa berkantung tebal.
Kami juga sudah punya Band, namanya edCoustic Band. Tiggi (gitar) dan Tri (bass)
kami “temukan” secara tak sengaja di sebuah festival nasyid. Karena skill-nya bagus kami ajaklah mereka gabung. Gigin (Drum) juga t
ak sengaja ditemukan saat aku berkunjung ke Karisma, ternyata ada pembina muda Karisma yang senang musik. Meski punya Band, resminya edCoustic tetap dua orang. Kloplah aku harus ngurusin 5 orang anak-anak edCoustic. Deden, Egi, Tiggi, Tri, dan Gigin. Semuanya punya karakter yang berbeda. Alhamdulillah aku diberi kesempatan mengurusi orang-orang berbakat ini.
Lalu bakatku dimana? Main musik?? Ah... tidak. Aku selalu mengacaukan irama permainan musik edCoustic band saat latihan. Kasihan mereka, sebenarnya dalam hati mereka berkata “Duh... kang Irfan... please deh..” tapi mereka segan kayaknya he..he.. Padahal permainan gitarku sebaik Toh Pati loh.., tapi saat Toh Pati belum bisa main gitar. Kalau Om Deden lagi ga ada, aku yang gantiin Vocal. Lagi-lagi mereka pasti membatin, “please... deh Kang Irfan..”. Sebab suaraku sering berpindah nada tanpa terkontrol. Padahal suaraku sebagus Richard Mark, tapi saat dia sakit tenggorokan.
Sekarang edCoustic sedang menyusun album II, semoga cepat kelar. Materi lagunya sih aku pikir lebih baik dari album I. Yang jelas karakter lirik edCoustic yang selalu dekat dengan pengalaman real kita tetap dipertahankan. So.. kalau dah jadi beli kaset & CD-nya ya.., trus pasang NSP-nya. Kalau bajak MP3-nya jangan.., sebab itu membajak namanya. Kalau mau membajak, disawah aja okeh..?
Intinya aku senang jadi seorang manajer nasyid. Pengalaman di edCoustic buatku sebagai penggalan kisah yang luar biasa. Sedihnya pasti ada, senangnya juga. Yang jelas I love it.
Recent Comments